Kalau ada pertanyaan, siapa band rock yang sekarang amat diperhitungkan di Indonesia, secara komersial dan secara off air? Hanya ada 2, Burgerkill dan Kotak. Mereka berada di area yang sama secara “napas” tapi berbeda dalam kaca industrial. Saya tidak akan membandingkan dua band tersebut, karena hanya akan membahas tentang Burgerkill, band metal edun asal Ujung Berung, Bandung.
foto oleh: burgerkillofficial.com
foto oleh: burgerkillofficial.com
SABTU [28/9/2013], band berawak Eben [gitar], Vicky [vokal], Agung [gitar], Ramdhan [bass] dan Andris [drum], mengakhiri “petualangannnya” di 76 kota, dengan puncak konser di Istora Jakarta. Disponsori salah satu perusahaan rokok lokal, band ini sudah mengitari dan manggung di puluhan kota, dengan antusiasme begundal [ini cara mereka menyebut fans-nya], yang bisa dikatakan luarbiasa. Mengusung jargon ‘Spit the Venomous’ band yang sudah sering manggung di festival musik internasional itu, tampil dengan kapasitas [bukan] band lokalan lagi.
Kualitas tata suara, tata lampu dan tata panggung, membuat saya harus memberikan acungan jempol. Beberapa kali konser metal band-band asing, seperti Dragon Force, Avenged Sevenfold, Black Dahlia Murder, hingga Metallica, selalu menyajikan pameran operasional pertunjukkan yang ciamik. Sayangnya, hal itu seperti tidak berlaku ketika menggelar konser lokal, meski mungkin secara kapasitas skill dan teknik, banyak yang jauh lebih keren ketimbang band-band asing itu.
foto oleh: burgerkillofficial - noiseyouth.com
Dan konser Burgerkill mematahkan anggapan “anak tiri” band lokal itu. Dikemas dengan backdrop dari sampul album Venomous, saya menyaksikan aksi panggung kelas dunia dari band Bandung coret. Tata suaranya benar-benar detil, sehingga suara gitar dan drum terdengar sangat jelas. Meski beberapa kali temponya agak ngebut, tapi itu hanya cacat kecil yang tidak ada pengaruhnya. Kemudian tata lampu yang ciamik. Sekadar catatan saja, beberapa kali konser lokal yang saya tonton, menyuguhkan aksi lampu yang tampak dinyalan dan diarahkan dengan asal-asalan. Tampaknya belum ada orang yang khusus “bermain-main” dengan tata lampu secara profesional.
Dan tiga ribuan begundal dari seluruh Indonesia [bahkan ada yang dari Skotlandia datang], mulai paham artinya konser tanpa rusuh. Meski ketika Koil sebagai salah satu band pembuka tampil dan melempar gitarnya, sempat terjadi sedikit gesekan di antara penonton yang berebut gitar. Untung saja perilaku “kampungan” itu tidak berlangsung lama dan kembali terkendali. Padahal circle pit, moshing dan headbang terlihat di kelas festival. Benturan, gesekan dan tabrakan badan, pasti terjadi. Hal yang dulu banget kerap dilihat sebagai “rusuh” oleh aparat.
Ambassador of Philia
Di skena metal Indonesia sendiri, sebenarnya adalah beberapa “kubu” kalau saya bilang. Banyak yang menyebut Burgerkill adalah kubu salam tiga jari, seperti laiknya band-band metal lain. Meski kemudian ada yang menulis di beberapa blog, tentang makna tiga jari dan sejarahnya yang konon berhubungan dengan okultisme.
Saya termasuk salah satu orang yang mengamati perkembangan band ini, meski tidak secara intens. Tapi obrolan saya dengan mereka sekian tahun yang lalu, membuat kami akhirnya berteman dan beberapa kali terlibat diskusi soal musik dan kehidupan.
foto oleh: hai-online.com
Ketika bicara musik metal, imej yang muncul pertama kali adalah berangasan, kasar dan keras. Wajarlah, karena personil band dengan genre ini muncul dalam personifikasi dan visual yang ada di gambaran tentang “kesangaran” yang sudah disebut di atas. Termasuk tentu saja Burgerkill. Tapi bukan itu yang menarik, meski musikalitas yang mereka miliki menobatkan mereka sebagai pemenang “Metal as F**K” dari Majalah Metal Hammer, sejatinya Burgerkill dalam kesehariannya punya kesan bersahaja yang kuat. Kalau dalam bahasa advertising, dikenal dengan kesan pertama. Dari banyak lirik lagunya, Burgerkill adalah band dengan kadar humanisme lirik yang kuat. Tentu dengan sudut pandang pengalaman hidup mereka, termasuk ketika ditinggalkan vokalis sebelumnya, Ivan ‘Scumbag’ yang meninggal karena sakit.
Burgerkill mematahkan anggapan rockstar yang makin menjadi raja dan ingin diperlakukan sebagai raja. Mereka melakukan perombakan pemahaman, bukan untuk berada pada ranah yang susah disentuh, tapi justru memilih berpihak pada kesederhanaan, kesadaran darimana mereka berasal, dan komitmen untuk membuat pilihan dan tindakan itu menjadi suatu realitas.
Mereka tak cuma jadi anak band yang berwarta lewat lagu dan lirik, tapi juga sama seperti lainnya, saat turun panggung dan jadi manusia biasa. Mereka tak jadi “tuhan” yang kasak-kusuk soal pietas, mendorong segala sesuatunya dengan alasan moral semata. Tapi sebenarnya utopis dan phantasia, khayalan belaka. Mungkin pilihan-pilihan itu yang termasuk “disentil” oleh kubu metal yang lain.
Saya tak akan bertutur soal bagaimana aksi Burgerkill dalam konser-konsernya, karena pasti media mainstream dan fans-fanya sudah mengupas sisi musikal itu. Tapi dari sisi filosofis, Burgerkill sudah seperti filsuf yang bertutur tak biasa di setiap liriknya. Dan saya lebih menyukai hal itu, ketimbang menjadi “penceramah” bicara soal sorga neraka, yang sebenarnya malah memasang tameng.
Diakui atau tidak, sekarang Burgerkill sudah menjadi ambassador of philia, atau duta besar untuk perubahan. Perubahan musikalitas, sudut pandang kehidupan, dan tentu saja perubahan “gemuruh” industri musik Indonesia.
Turbidity Band
Support KOLONI BABI
TURBIDITY BANDUNG SLAMMING GUTTURAL, Berdiri
di Bandung pada tanggal 14 februari 2008. Dengan formasi personil Iko Carbon -
drums, Dada Rosadeath - Vocals, Daniel Turbiyem - Guitar, Dmamay - Bass. membawa
genre SLAMMING untuk down-tempo Death Metal, dengan suara berat, karakter
distorsi yang rendah, dibedakan GORE lirik dan komposisi GUTTURAL.
Band
Inspirasi Turbidity Adalah: Abominable Putridity ( Russianose Death Metal ), Devourment
( Texas Brutal Slam ), Internal Bleeding ( USA Groovy Death Metal ) &
Cephalotripsy ( USA Slam ), Artis yang Kami Juga Sukai adalah JASAD, BLEEDING
CORPSE, ABOMINABLE PUTRIDITY, CEPHALOTRIPSY, CONDEMNED, DEVOURMENT dan HABIB CLUB. Turbidity adalah band pertama
SLAMMING GUTTURAL di bandung bahwa mereka mengeluarkan album pada 16 Januari
2011 " SUFFERING OF HUMAN DECAPITATED". lisensi oleh:
"EXTREME SOUL PRODUCTION".
Ini Dia
Album Tubidity >
Suffering Of Human Decapitated (2011)
1. Slam on Your Face
2. Membunuh Atau Dibunuh
3. Infernal from Malidiction
4. Path of Mutilated
5. Impulsive Consume the Cadaver
6. Marah Termuntah
7. Suffering of Human Decapitated
8. Your Pain Is My Pleasure
9. Persetubuhan Sedarah
10. The Amelia’s Revenge (Jasad
Cover)
Vomiting
The Rotten Maggot (2012)
1. We Come From Slam
2. Dendam Maksimal
3. Vomiting the rotten maggot
4. Horror of Carcass and Gutted
5. Path of mutilated
6. Marah turmuntah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar